Sejarah Singkat Kota Manado

Manado adalah kota terbesar di ujung jazirah Sulawesi Utara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dimana sebelum kedatangan bangsa-bangsa barat, lokasi yang sekarang disebut Kota Manado sudah ada walaupun belum bernama Manado.

http://manadoindo.files.wordpress.com/2009/07/manado-tempo-doeloe-2.jpg

https://i1.wp.com/2.bp.blogspot.com/_1ldYTDpzw-Y/SS48pDnJVoI/AAAAAAAAAIQ/qiWKtKQFjLg/s320/45+TEMPO+DULU5.jpg

Nama Manado berasal dari bahasa Tombulu tua, yakni Manoir yang sepadan dengan Maharor, Maerur atau Maherur dalam bahasa yang sama yang berarti berkumpul untuk berunding. Konon lokasi ini dahulu adalah Pahawinaroran ni Tasikela, yang artinya tempat berkumpul orang-orang Spanyol. Maksudnya suatu tempat dimana orang Minahasa dan orang Spanyol bertemu dan berkumpul untuk melangsungkan suatu perundingan.

[Kantor+Pos+Manado+1910.jpg]

Ada pula yang mengatakan bahwa Manado berasal dari kata Manarou atau Wana Rou yang berarti tempat yang jauh. Manado juga berasal dari rangkaian kata Manadou, Mana ndou, dan Mana dou dimana artinya juga tempat yang jauh.

[Jembatan+Megawati+1910.jpg]

Selanjutnya nama Manado dahulu kala dihubungkan dengan nama lokasi Wenang atau lengkapnya Wanua Wenang yang menurut legenda didirikan oleh seorang tokoh dari Walak Ares bernama Dotu Lolonglasut.

[gereja+sentrum+1930.jpg]

Kata Wenang diambil dari nama sejenis kayu, yakni Macaranga Hispida yang pada masa itu menurut kisah banyak tumbuh. Kayu sejenis ini kulitnya sangat berguna sebagai bahan penyamak jala nelayan agar tidak lekas lapuk oleh air laut.

[gereja+katolik+samrat+1930.jpg]

Selain itu nama lokasi ini pernah disebut sebagai Mandolang atau lengkapnya Mandolang Amian (Mandolang Utara) untuk membedakannya dengan Mandolang Talikuran (Mandolang Barat), yakni lokasi yang sekarang ini terletak di arah barat daya Kota Manado. Kata Mandolang diambil dari bahasa Tombulu tua, yakni Maodalan yang artinya kunjung-mengunjungi. Berhubung tempat tersebut sering di kunjungi oleh para pelaut bukan Minahasa yang datang untuk mengadakan hubungan dagang berupa tukar-menukar barang dengan orang Minahasa waktu itu.

Tempat tersebut dimasa lalu juga disebut sebagai Tumpuhan Wenang atau Labuan Wenang. Sebutan pertama berkaitan erat dengan lokasi tempat berdagang orang-orang Minahasa dari pedalaman dengan orang-orang luar. Sedangkan Labuan Wenang dimaksudkan sebagai lokasi pesisiran dimana orang-orang luar Minahasa datang dan berlabuh untuk berdagang dengan orang Minahasa.

Mengingat eratnya penamaan lokasi diatas dengan urusan perdagangan, maka dapatlah dikatakan bahwa nama Manado mulai dikenal dunia luar sejalan dengan ramainya kegiatan perdagangan dimasa itu. Bersamaan dengan itu pula masuklah pengaruh bahasa Melayu yang dibawah oleh pedagang nusantara. Bahasa itu sering digunakan dan disebut bahasa Melayu Pasar yang sekarang ini telah berkembang menjadi bahasa Melayu Manado.

https://i1.wp.com/4.bp.blogspot.com/_1ldYTDpzw-Y/SS48pRpWooI/AAAAAAAAAIg/cQjob3rln3Q/s320/45+TEMPO+DULU.jpg

Menurut riwayat perkembangan sejarah Indonesia, Kota Manado telah  dikenal  dan  didatangi oleh orang-orang dari luar negeri sejak abad ke – 16. Akan tetapi momentum yang lebih banyak memiliki kesan-kesan historis dalam dokumen negara, yakni pada abad ke – 17 khususnya di tahun 1623.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Manado merupakan pusat pemerintahan dari wilayah Keresidenan Manado yang pada waktu itu meliputi pulau Miangas (pulau paling utara dari Sulawesi Utara) sampai ke Kolonedale di Sulawesi Tengah.

[45+TEMPO+DULU+2.jpg]

Oleh karena pengaruh situasi politik dan struktur pemerintahan, maka status Kota Manado dari masa ke masa mengalami perubahan-perubahan, mulai dari status Gemeente Manado hingga berstatus daerah Kota Manado.


%d blogger menyukai ini: